Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 07 November 2012

“ BELAJAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL BELAJAR ”


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
ILMU JIWA BELAJAR
“ BELAJAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL BELAJAR ”
KATA PENGANTAR
 Tiada kata yang patut dan pantas kami ungkapakan melainkan ucapan Alhamdulillah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga disini penulis dalam waktu singkat dapat menyelesaikan Makalah  ini guna untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing, dalam menulis makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ucapkan banyak terimakasih diantaranya kepada :
1.      Hj. Sufinatin Aisidah, M.Pd.I, selaku dosen Pembimbing pembuatan makalah ini.
2.    Semua orang-orang yang membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dimakalah ini.
Akhirnya penulis senantiasa berdo’a kepada Allah SWT semoga jerih payah yang selama ini dilakukan diterima oleh Allah SWT sebagai amal shaleh, shalehah, Amin…..
Penulis sadar bahwa manusia tidak bisa lepas dari salah dan lupa, oleh karena itu saran dan kritik selalu penulis harapkan pada pembaca semua demi kesempurnaan Makalah ini.


Surabaya, 11 Oktober 2011



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Setiap harinya kita pasti tidak akan lepas dari kegiatan belajar. Baik kita sadari ataupun tidak, baik secara formal maupun nonformal. Banyak hal disekitar kita yang dapat kita jadikan bahan pelajaran. Mulai dari lingkungan, tumbuhan, hewan bahkan manusia itu sendiri. Tetapi meski demikian, ternyata tidak semua kegiatan yang kita lakukan dapat dikatakan sebagai belajar. Misalnya saja, ketika kita berolahraga kemudian tanpa sadar kaki kita terkilir sehingga kita kesulitan untuk berjalan. Apakah hal yang demikian termasuk dalam kategori belajar? Lantas kegiatan atau aktivitas apa saja yang dapat dikatakan sebagai belajar?
Dengan adanya pernyataan di atas maka, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba untuk memaparkan dan menjelaskan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dinyatakan sebagai belajar. Selain itu kami juga akan menjelaskan mengenai apa itu belajar, apa saja prinsip-prinsip belajar, bentuk-bentuk dari belajar serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi belajar.
Belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik melalui aktivitas belajar sebagai hasil dari interaksi peserta didik dengan lingkungan pendidikan dan dengan guru.pengertian belajar secara psikologis, juga dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalm memenuhi kebutuhan hidupnya.








1.2  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, dapat di ambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah belajar itu?
2.      Bagaimana prinsip dan bentuk dari belajar?
3.      Bagaimana pula faktor-faktor yang mempengaruhi belajar?
1.3   TUJUAN MASALAH
Dari rumusan masalah di atas, dapat di ambil tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian belajar
2. Untuk mengetahui prinsip dan bentuk belajar
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi belajar
1.4  METODOLOGI PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi pustaka yaitu mengambil materi-materi dari berbagai sumber buku. Selain itu, penulis juga mengambil materi dari internet demi kelengkapan makalah yang penulis buat ini.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1            Pengertian Dan Ciri-Ciri Belajar
Belajar adalah : perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik melalui aktivitas belajar sebagai hasil dari interaksi peserta didik dengan lingkungan pendidikan dan dengan guru.pengertian belajar secara psikologis, juga dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalm memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar didefinisikan oleh berbagai ahli sebagai berikut:
Slameto (1988:2) mengemukakan bahwa : “ belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya”.
Moeslichatoen (1989:1) belajar ialah proses yang membuat terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendiri dihasilkan dari usaha dalam proses belajar.
Cronbach (sadirman 1990:22) belajar ialah perubahan dalam performansi sebagai hasil dari praktek.
Harold spears 1955: P.94 : learning is to observe , to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.
McGeoh : learning is a change performance as a result of practice( skinner,1958 p.109)
Hilgard : learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedures ( whether  in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from change by faktors not attributable to training (1948,p.4)
W. Setrn dalm buku allgemeine psychology “ learn : is the kennisserwerb durch wiedurholte darbeitungen yang arti luasnya meliputi der ansignung neur fertigkeiten durch wiederholungdie rede ( stern, 1950.p, 313)
Jika dianalisis pengertian belajar dari berbagai ahli tersebut , nampaknya memiliki pandangan yang relatif sama tentang pengertian belajar, Belajar adalah : perubahan perilaku yang dihasilkan dari suatu proses kegiatan belajar yang diperoleh peserta didik melalui proses pembelajaran dikelas. Proses tersebut ditunjukan oleh peserta didik menjadi tahu, terampil,berbudi, dan menjadi manusia yang mampu menggunakan akal pikirannya sebelum bertindak dan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu.
Jadi pengertian belajar menurut para ahli psikologi, khususnya psikologi pendidikan yaitu:
1.      Perubahan yang terjadi secara sadar
2.      Perubahan belajar bersifat continue dan fungsional
3.      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
4.      Perubahan belajar tidak bersifat sementara
5.      Perubahan belajar bertujuan dan terarah
6.      Perubahan mencakup seluruh aspek perilaku
(Slameto, 1988:3-4) kesimpulannya bahwa semua perubahan yang terjadi karena tidak direncanakan tidak termasuk dalam pengertian belajar, misalnya si Ali menjadi pincang dalm berjalan karena habis jatuh dari sepeda, maka perubahan dari tidak pincang menjadi pincang ini tidak termasuk dalam pengertian belajar.
2.2            Prinsip-Prinsip Belajar
Agar aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi siswa secara komprehensip, maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, yang bertolak dari kebutuhan internal siswa untuk belajar. Davies (1991:32), mengingatkan beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar dalam proses pembelajaran, yaitu :
1. Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya.
2. Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
3. Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement).
4. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran, memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
5. Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat lebih baik.
Prinsip belajar menunjuk kepada hal-hal penting yang harus dilakukan guru agar terjadi proses belajar siswa sehingga proses pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai hasil yang harapkan. Prinsip-prinsip belajar juga memberikan arah tentang apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh guru agar para siswa dapat berperan aktif di dalam proses pembelajaran.
Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar dalam Pembelajaran
1.      Prinsip perhatian dalam motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan dua aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat erat.Untuk menumbuhkan perhatian diperlukan adanya motivasi. Sejumlah hasil penelitian bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar.
Hamalik (2001), mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi di dalam diri seseorang tersebut kemudian membentuk suatu aktivitas nyata dalam bebagai bentuk kegiatan.
Penerapan prinsip-prinsip motivasi dalam proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan baik, bilamana guru memahami beberapa aspek yang berkenaan dengan dorongan psikologis sebagai individu dalam diri siswa sebagai berikut :
a.       Setiap individu tidak hanya didorong oleh pemenuhan aspek biologis, sosial dan emosional, akan tetapi individu perlu juga dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang ia miliki saat ini.
b.      Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha.
c.       Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian.
d.      Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar.
e.       Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
f.       Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terdapat motivasi dan perilaku.
g.      Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena memang ingin belajar.
h.      Kompetisi dan insentif dalam waktu tertentu dapat meningkatkan motivasi.
i.        Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
j.        Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi.
Agar motivasi belajar siswa dapat tumbuh dengan baik maka guru harus berusaha :
Ø  Merancang atau menyiapkan bahan ajar yang menarik.
Ø  Mengkondisikan proses belajar aktif.
Ø  Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang menyenangkan.
Ø  Mengupayakan pemenuhan kebutuhan siswa di dalam belajar (misalnya kebutuhan untuk dihargai, tidak merasa tertekan, dsb)
Ø  Meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mencapai suatu prestasi.
Ø  Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin pula memberitahukan hasilnya kepada siswa.
Ø  Memberitahukan nilai dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari.
2.      Prinsip Transfer dan Retensi
Berkenaan dengan proses transfer dan retensi terdapat beberapa prinsip yaitu :
Å      Tujuan belajar dan daya ingat dapat menguat retensi.
Å      Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik.
Å      Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi psikis dan fisik dimana proses belajar itu terjadi.
Å      Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang lebih baik.
Å      Penelaahan bahan-bahan faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi.
Å       Proses belajar cenderung terjadi bila kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Å       Proses saling mempengaruhi dalam belajar akan terjadi bila bahan baru yang sama dipelajari mengikuti bahan yang lalu.
Å       Pengetahuan tentang konsep, prinsip dan generalisasi dapat diserap dengan baik dan dapat diterapkan lebih berhasil dengan cara menghubung-hubungkan penerapan prinsip yang dipelajari dengan memberikan ilustrasi unsur-unsur yang serupa.
Å      Transfer hasil belajar dalam situasi baru dapat lebih mendapatkan kemudahan bila hubungan-hubungan yang bermanfaat dalam situasi yang khas dan dalam situasi yang agak sama dapat diciptakan.
Å       Tahap akhir proses belajar seyogyanya memasukkan usaha untuk menarik generalisasi, yang pada gilirannya nanti dapat lebih memperkuat retensi dan transfer.
3.      Prinsip Keaktifan
Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional dan fisik jika dibutuhkan. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya anak-anak adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh suburnya keaktifan itu.
Menurut teori belajar Kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer begitu saja dari pikiran orang yang mempunyai pengetahuan ke pikiran orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan bila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide dan pegertian kepada seorang murid, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh si murid lewat pengalamannya (Glasersferld dalam Battencourt, 1989).
Dalam proses konstruksi itu menurut Glasersferld, diperlukan beberapa kemampuan; (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada pengalaman yang lain.
Implikasi prinsip keaktifan atau aktivitas bagi guru di dalam proses pembelajaran adalah:
Þ    Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam prose pembelajarannya.
Þ    Memberikan kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen.
Þ    Memberikan tugas individual dan kelompok melalui kontrol guru.
Þ    Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Þ    Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.
4.      Prinsip Keterlibatan Langsung
Sejumlah hasil penelitian membuktikan lebih dari 60% sesuatu yang diperoleh dari kegiatan belajar didapatkan dari keterlibatan langsung. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajarnya yang dituangkan di dalam kerucut pengalaman belajar mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui penglaman langsung. Keterlibatan langsung siswa memberi banyak sekali manfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut.
Implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi guru adalah:
à   Mengaktifan peran individual atau kelompok kecil di dalam penyelesaian tugas.
à   Menggunakan media secara langsung dan melibatkan siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
à   Memberi keleluasaan kepada siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
à   Memberikan tugas-tugas praktek.
Bagi siswa, implikasi prinsip keterlibatan langsung ini adalah: (1) siswa harus terdorong aktif untuk mengalami sendiri dalam melakukan aktivitas pembelajaran, (2) siswa dituntut untuk aktif mengerjakan tugas-tugas.
5.      Prinsip Pengulangan
Teori belajar klasik yang memberikan dukungan paling kuat terhadap prinsip belajar pengulangan ini adalah teori psikologi daya. Berdasarkan teori ini, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang meliputi daya berpikir, mengingat, mengamati, manghafal, menanggapi dan sebagainya. Melalui latihan-latihan maka daya-daya tersebut semakin berkembang. Sebaiknya semakin kurang pemberian latihan, maka daya-daya tersebut semakin lambat perkembangannya.
Di samping teori psikologi daya, prinsip pengulangan ini juga didasari oleh teori Psikologi Asosiasi atau Connecsionisme yang dipelopori oleh teori Thorndike dengan salah satu hukum belajarnya “Low of exercise” yang mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons. Pandangan psikologi condisioning juga memberikan dasar yang kokoh bagi pentingnya proses latihan. Psikologi ini berpandangan bahwa munculnya respons, tidak saja disebabkan oleh adanya stimulus, akan tetapi lebih banyak disebabkan karena adanya stimulus yang dikondisikan.
Stephen R. Covey, pengarang buku The 7 Habits of Effective People, mengemukakan bahwa kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiga hal tersebut. Pandangannya ini digambarkan sebagai berikut:
Pengetahuan (apa yang harus dilakukan, mengapa)
Keterampilan (bagaimana melakukan)
Pola Terbentuknya Kebiasaan
Keinginan (mau melakukan)
Implikasi prinsip-prinsip pengulangan bagi guru adalah:
©      Memilah pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan.
©      Merancang kegiatan pengulangan.
©      Mengembangkan soal-soal latihan.
©      Mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pengulangan yang bervariasi.
Sedangkan pada siswa sangat dituntut untuk memiliki kesadaran yang mendalam agar bersedia melakukan pengulangan latihan-latihan baik yang ditugaskan oleh guru maupun atas inisiatif dan dorongan diri sendiri.
6.      Prinsip Tantangan
Deporter (2000:23) mengemukakan bahwa studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang serta ramah, dan mereka memiliki peran di dalam pengambilan keputusan. Bilamana anak merasa tertantang dalam suatu pelajaran, maka ia dapat mengabaikan aktivitas lain yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Mihaly Csikszentmihalyi, psikolog dari Universitas Chicago dikenal karena penelitiannya dalam mendokumentasikan suatu “keadaan dimana seseorang sangat terlibat dalam sebuah kegiatan sehingga hal lain seakan tak berarti lagi”. Goleman menjelaskan tentang keadaan flow ini. Jika tuntunan terlalu sedikit, orang akan menjadi bosan. Jika tuntutan terlalu besar untuk diatasi, mereka akan menjadi cemas. Flow terjadi di daerah genting antara kebosanan dan kecemasan.
Kurt Lewin dalam sebuah teori yang dinamakannya “Teori Medan” (Field Theory), mengemukakan bahwa siswa di dalam suatu situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis.
Beberapa bentuk kegiatan berikut dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru untuk menciptakan tantangan dalam kegiatan belajar, yaitu :
1) Merancang dan mengelola kegiatan inquiry dan eksperimen.
2) Memberikan tugas-tugas pemecahan masalah kepada siswa.
3) Mendorong siswa untuk membuat kesimpulan pada setiap sesi pembelajaran.
4) Mengembangkan bahan-bahan pembelajaran yang menarik.
5) Membimbing siswa menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi.
6) Merancang dan mengelola kegiatan diskusi.
7.      Prinsip Balikan dan Penguatan
Prinsip balikan dan penguatan pada dasarnya merupakan implementasi dari teori belajar yang dikemukakan oleh Skiner melalui Teori Operant Conditioning dan salah satu hukum belajar dari Thorndike yaitu “law of effect”. Menurut hukum belajar ini, siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil belajar, apalagi hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh positif bagi upaya-upaya belajar berikutnya. Namun dorongan belajar, menurut Skinner tidak hanya muncul karena penguatan yang menyenangkan, akan tetapi juga terdorong oleh penguatan yang tidak menyenangkan, dengan kata lain penguatan positif dan negatif dapat memperkuat belajar.
Memberi penguatan (reinforcement) merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku pada waktu yang lain.
Sumantri dan Permana (1999:274) mengemukakan secara khusus beberapa tujuan dari pemberian penguatan, yaitu:
x        Membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
x        Merangsang peserta didik berpikir lebih baik.
x        Menimbulkan perhatian peserta didik.
x        Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi.
x        Mengendalikan dan mengubah sikap negatif peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar.
Terdapat beberapa jenis penguatan yang dapat dilakukan guru:
Þ    Penguatan verbal, yaitu penguatan yang diberikan guru berupa kata-kata/kalimat yang diucapkan, seperti: “bagus”, “baik”, “smart”, “tepat” dan sebagainya.
Þ    Penguatan gestural, yaitu penguatan berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi arti/kesan baik kepada peserta didik. Penguatan gestural dapat berupa; tepuk tangan, acungan jempol, anggukan, tersenyum, dan sebagainya.
Þ    Penguatan dengan cara mendekati, yaitu perhatian guru terhadap perilaku peserta didik dengan cara mendekatinya. Penguatan dengan cara mendekati ini dapat dilakukan ketika peserta didik menjawab pertanyaan, bertanya, berdiskusi atau sedang melakukan aktivitas-aktivitas lainnya.
Þ    Penguatan dengan cara sentuhan, yaitu penguatan yang dilakukan guru dengan cara menyentuh peserta didik, seperti menepuk pundak, menjabat tangan, mengusap kepala peserta didik, atau bentuk-bentuk lainnya.
Þ    Penguatan dengan cara memberikan kegiatan yang menyenangkan. Memberikan penghargaan kepada kepada kemampuan peserta didik dalam suatu bidang tertentu, seperti peserta didik yang pandai bernyanyi diberikan kesempatan untuk melatih vokal pada temannya.
Þ    Penguatan berupa tanda atau benda, yaitu memberikan penguatan kepada peserta didik berupa simbol-simbol atau benda-benda. Penguatan ini dapat berupa komentar tetulis atas karya peserta didik, hadiah, piagam, lencana, dan sebagainya.
Ketepatan pemberian dan penggunaan penguatan harus mendapat perhatian guru. Bilamana penguatan dipergunakan pada situasi dan waktu yang tidak tepat, maka hal itu dapat kehilangan keefektifannya. Sebaliknya bilamana penguatan itu dipergunakan secara tepat, maka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap aktivitas belajar peserta didik.
Implikasi prinsip-prinsip balikan dan penguatan bagi guru antara lain; (1) memberikan balikan dan penguatan secara tepat, baik tenik, waktu maupun bentuknya, (2) memberikan kepada siswa jawaban yang benar, (3) mengoreksi dan membahas pekerjaan siswa, (4) memberikan catatan pada hasil pekerjaan siswa baik berupa angka maupun komentar-komentar tertentu, (5) memberikan lembar jawaban atau kerja siswa, (6) mengumumkan atau menginformasikan peringkat secara terbuka, (7) memberikan penghargaan.
8.      Prinsip Perbedaan Individual
Hasil sejumlah riset menunjukkan bahwa keberagaman faktor, seperti sikap siswa, kemampuan dan gaya belajar, pengetahuan serta memberikan dan konteks pembelajaran merupakan komponen yang memberikan dampak sangat penting terhadap apa yang sesungguhnya harus siswa-siswa pelajari (Killen, 1998:5).
Dalam pandangan DePorter & Hernacki (2001:117) terdapat tiga karakteristik atau modalitas belajar siswa yang perlu diketahui oleh setiap pendidik dalam proses pembelajaran, yaitu:
a)      Orang-orang yang visual, yang sering kali ditandai suka mencoret-coret ketika berbicara di telpon, berbicara dengan tepat, lebih suka melihat peta daripada mendengar penjelasan.
b)      Orang-orang yang auditorial, yang sering ditandai suka berbicara sendiri, lebih suka mendengarkan ceramah atau seminar daripada membaca buku, lebih suka berbicara daripada menulis.
c)      c. Orang-orang yang kinestetik, yang sering ditandai berpikir lebih baik ketika bergerak atau berjalan, banyak menggerakkan anggota tubuh ketika berbicara, sulit untuk duduk dan diam.
Peserta didik adalah individual yang memiliki keunikan, berbeda satu sama lain dan tidak satupun yang memiliki ciri-ciri persis sama meskipun mereka itu kembar. Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami.
Pembelajaran yang bersifat klasikan yang mengabaikan perbedaan-perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Cara-cra yang dapat ditempuh oleh guru antara lain penggunaan metode atau pendekatan secara bervariasi sehingga semakin besar memberikan peluang tumbuhnya perhatian siswa di dalam latar belakang perbedaan individual. Upaya lain yang dapat dilakukan guru adalah dengan menambah waktu belajar bagi siswa-siswa yang memiliki kemampuan rendah, atau memberikan pengayaan bagi siswa-siswa yang memiliki kemampuan lebih dari yang lain.
2.3            Bentuk-Bentuk Belajar
Belajar sebagai aktivitas mencakup:
1.      belajar bagian : peserta didik belajar dengan membagi-bagi materi pelajaran ke dalam bagian-bagian agar mudah dipelajari untuk memahami makna materi pelajaran secara keseluruhan.
2.      belajar dengan wawasan : belajar yang berdasr pada teori wawasan yangt menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses mereorganisasikan pola-pola perilaku yang terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan
3.      belajar diskriminatif : suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi rangsangan dan menjadikannya sebagai suatu pedoman.
4.      belajar secara global atau keseluruhan : individu mempelajari keseluruhan bahan pelajaran lalu dipelajari secara berulang untuk dikuasai.
5.      belajar incidental : proses yang terjadi secara sewaktu-waktu tanpa ada petunjuk yang diberikan oleh guru sebelumnya.
6.      belajar instrumental : proses belajar yang terjadi karena adanya hukuman dan hadiah dari guru sebagai alat untuk mensukseskan aktivitas belajar peserta didik.
7.      belajar intensional : belajar yang memiliki arah ,tujuan, dan petunjuk yang dijelaskan oleh guru.
8.      belajar laten : belajar yang ditandai dengan perubahan-perubahan perilaku yang terlihat tidak terjadi dengan segera.
9.      belajar mental : perubahan tingkah laku yang terjadi pada individu tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif dari bahan yang dipelajari.
10.  belajar produktif : belajar dengan transfer maksimum
11.  belajar secara verbal : belajar dengan materi verbal dengan melalui proses latihan dan proses ingatan.




2.4            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Dan Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar atau rangkuman
Untuk memahami kegiatan yang disebut “belajar” perlu dilakukan analisis untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat didalam kegiatan belajar itu. Dimuka telah dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses. Sebagai suatu proses sudah barang tentu harus ada yang diproses (masukan atau input), dan hasil dari pemrosesan(keluaran atau output). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis kegiatan belajar itu dengan pendekatan analisis system. Dengan pendekatan system ini sekaligus kita dapat melihat adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Di dalam proses belajar – mengajar di sekolah, maka yang dimaksud masukan mentah atau raw input adalah siswa sebagai raw input siswa memiliki karakteristik tertentu, baik fisiologis maupun psikologis. Mengenai fisiologis ialah bagaimana kondisi fisiknya, panca indranya dan sebgainya. Sedangkan menyangkut psikologis adalah: minatnya, tingkat kecerdasannya, bakatnya, motivasinya, kemampuan kognitifnya, dan sebagainya. Semua ini dapat mempengaruhi bagaimana proses dan hasil belajarnya.
Yang termasuk instrumental input atau faktor-faktor yang disengaja dirancang dan dimanipulasikan adalah: kurikulum atau bahan pelajaran, guru yang memberikan pengajaran, sarana dan fasilitas, serta menejemen yang berlaku disekolah yang bersangkuatan. Didalam keseluruhan sistem maka instrumental input merupakan faktor yang sangat penting pula dan paling menentukan dalam pencapaian hasil/output yang dikehendaki, karena instrumental input inilah yang menentukan bagaimana proses belajar mengajar itu akan terjadi didalam diri si pelajar.
Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu adalah banyak sekali macamnya, terlalu banyak untuk disebutkan satu opersatu. Untuk memudahkan pembicaraan dapat dilakukan klasivikasi demikian :
(1)   Faktor-faktor yang bersal dari luar diri pelajar, dan in I masi laagi dapat digolongkan menjadi dua golongan, dengan catatan bahwa overlopping tetap ada, yaitu :
(a)    Faktor0 faktor non social
(b)   Faktor- faktor social
(2)   Faktor- faktor yang berasal daari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu :
(a)    Faktor-faktor fisiologis
(b)   Faktor-faktor psikologis
1.      Faktor- faktor Non Sosial Dalam Belajar
Kelompok faktor-faktor ini boleh dikata juga tak terbilang jumlahnya, seperti misalnya : keadaan udara, suhu udaara, cuaca, waktu ( pagi, atau siang, ataupun malam), tempat (letaknya, pergedunggannya) alat-alat yang dipakai untuk belajar ( seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga dan sebagainya yang biasa kita sebut alat- alat pelajaran).
Semua faktor-faktor yang telah disebutkan diatas itu, dan juga faktor-faktor lain yang belum disebutkan harus kita atur sedemikian rupa, shingga dapat membantu (menguntungkan) proses perbuatan belajar secara maksimal. Letak sekolah atau tempat belajar misalnya harus meemenuhi syarat-syarat seperti ditempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan sekolah. Demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan di daktis , psikologis, dan paedagogis.
2.      Faktor- faktor Sosial Dalam Belajar
Yang dimaksud dengan faktor-faktor social disini adalah faktor-faktor manusia (sesame manusia), baik manusia itu ada (hadir) maupun kehadiranya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atu orang-orang lain pad waktu seseorang sedang belajar,banyak kalio mengganggu belajar itu; misalnya kalau satu kelas murid sedang mengerjakan ujian lalu terdengar banyak anak anak lain bercakap- cakap disamping kelas. Fsktor-faktor social seperti yang telah dikemukakan diatasaitu pada umumnya bersifat mengganggu proses belajar dan prestasi-prestasi belajar. Biasanya faktor-faktor tersebut mengganggu kosentrasi, sehingga perhatian tidak dapat ditunjukan kepada hal yang telah dipelajari atau aktivitas belajar itu semata-mata.
3.      Faktor-Faktor Fisiologis Dalam Belajar
Faktor-faktor fisiologis ini masih dapat lagi dibedakan menjadi dua macam yaitu : (a) tonus jasmani pada umumnya (b) keadaan fungsi – fungsi fisiologis tertentu.
a.       Keadaan tonus jasmani pada umumnya
Keadan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatar belakangi aktivitas belajar; keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar;keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dari pada yang tidak lelah. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan.
(1)   Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani,yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lenkas mengantuk,lekas lelah, dan sebagainya.terlebih – lebih bagi anak- anak yang sangat mudah, pengaruh itu besaar sekali.
(2)   Beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu, penyakit-penyakit seperrti pilek, influenza, sakit gigi, batuk dan sejenis dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan; akan tetapi dlam kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat mengganggu aktivitas belajar itu.
b.      Keadaan fungsi – fungsi jasmani tertentu terutama fungsi- fungsi panca indra
Pada bab II telah dikemukakan bahwa panca indra dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu. Orang mengenai dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan panca indranya.baiknya panca indra merupakan syarat dapaynya belajar itu belangsung dengan baik. Dalam sekolahan dewasa ini diantara panca indra itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga, karena itu adalah menjadi kewajiban bagi setiap pendidik untuk menjaga agar panca indra anak didiknya dapat berfungsi dengan baik.
4.      Faktor – Faktor Psikologi Dalam Belajar
Faktor – faktor psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut ;
©      Adanya sifatbingin tahu dan inginmenyelidiki dunia yang lebih luas
©      Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keibginan untuk selalu maju
©      Adanya keinginan untuk mendaoatkan simpati kepad orang tua, guru dan teman-teman.
©      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koprasi maupun dengan kompetisi
©      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaaran
©      Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir  dari belajar
Maslow (menurut Frandsen, 1961, p. 234 ) mengemukakan motif –motif untuk belajar itu ialah :
Þ    Adanya kebutuhan fisik
Þ    Adanya kebutuhan dan rasa aman bebas dari kekhawatiran
Þ    Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain
Þ    Adanya kebutuhan untuk mendapatkan kehormatan dari masyarakat
Þ    Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetegahkan diri.
Apa yang telah dikemukakan itu hanyalah sekedar penyebutan sejumlah kebutuhan-kebutuhan saja, yang tentu saja dapat ditambah lagi, kebutuhan – kebutuhan tersebut  tidaklah lepas satu sama lain, melainkan sebgai suatu keseluruhan (suatu komleks) mendorong belajarnya anak. Kompleks kebutuhan – kebutuhan itu sifatnya individual, berbeda dari anak yang satu dengana yang lainya.
Selanjutnya suatu pendorong yang biyasanya besar pengaruhnya dalam belajarnya anak-anak didik kita ialah cita – cita. Cita-cita merupakan pusat dari bermacam –macam kebutuhan , artinya kebutuhan –kebutuhan biasanya disentralisasikan di sekitar cita-cita itu,sehingga dorongan tersebut mampu mengoblisasikan energy psikis untuk belajar.






BAB III
PENUTUP
3.1     KESIMPULAN
Belajar adalah sebagai proses menjadi dirinya sendiri (process of becoining) bukan proses untik dibentuk (proces of beings Imped) nunurut kehendak orang lain, maka kegiatan belajar harus melihatkan individu atau client dalam proses pemikiran apa yang mereka inginkan, mencari apa yang dapat dilakukan untuk memenuhi keinginan itu, menentukan tindakan apa yang harus dilakukan, dan merencanakan serta melakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan keputusan itu. Dapat dikatakan disini tugas pendidik pada umumnya adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri dan mempertimhangkan pandangan dan interest orang lain. Dengan singkat menolong orang lain untuk berkembang dan matang. Dalam andragogi, keterlibatan orang dewasa dalam proses helajar jauh lebih besar, sebab sejak awal harus diadakan suatu diagnosa kebutuhan, merumuskan tujuan, dan mengevaluasi hasil belajar serta mengimplementasikannya secara bersama-sama.
3.2      SARAN
       Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan rekan-rekan dalam memahami studi islam, masih banyak terdapat kesalahan ataupun kekeliruan dalam pembuatan makalah ini, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah yang akan datang






DAFTAR  PUSTAKA

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Hadis, Abdul. 2008. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Purwanto, Ngalim. 1986. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya
Slameto .1990. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta. Bina aksara
Ahmad Thonthowi.1991. Psikologi Pendidikan .Bandung. Penerbit Angkasa Bandung

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

http://www.search-document.com/ppt/1/pelajaran-hadits-mts.html http://www.odrivers.com/2011/12/toshiba-nb505-n508bn-windows-7-32-bit.html

Blog Archive